#OhayouJapan Day 4 – Spring I Love You Best!

May 22nd, 2014

Siapa sih yang ngga mau melihat sakura di Jepang secara langsung?

Piknik sambil makan siang, ngobrol sana-sini sambil duduk santai di bawah pohon sakura yang bermekaran.

Saya mau banget >.<

Apa daya ya harga tiket yang mahal di waktu sakura blooming sehingga harus bergeser liburan ke pertengahan bulan Mei.

Tetapi siapa bilang saya ngga bisa lihat sakura?

Apalagi sekalian mengunjungi destinasi wajib ketika berada di Jepang ;p

Destination #1

Fuji Shibazakura Festival

Fuji Shibazakura Festival

Fuji Shibazakura Festival

The flowers look like cherry and creep on lawn. And “shiba” means lawn and “zakura”(sakura) means cherry blossom. So it’s named the lawn cherry plant or Shibazakura.

Bedanya sama sakura yang biasanya itu mereka mekar di pohon, kalau Shibazakura ini mekar di tanah.

Fuji Shibazakura Festival hanya diadakan saat musim semi berlangsung. Untuk tahun ini diadakan dari tanggal 19 April hingga 1 Juni.

Biasanya kalau wisatawan mau melihat gunung fuji itu dari Lake Kawaguchi, Hakone (tempat pemandian air panas atau onsen) atau Gotemba, factory outlet yang menjual barang branded dengan harga terjangkau. Tetapi untuk festival yang hanya diadakan sekali setahun, tentunya lebih tertarik melihat Gunung Fuji dari sini bukan?

Fyi, best view-nya gunung fuji itu sebelum jam 9 pagi, biar puncak bersalju itu ngga kehalang awan atau kabut. Sayangnya, karena perjalanan memakan waktu cukup lama, naik kereta paling pagi dari hostel-pun tetep aja ngga bakal keburu sampai tujuan sebelum jam 9. Alhamdulillahnya sih, sampai disana sekitar 1/2 11-an puncak saljunya masih terlihat walaupun yaa ngga sempurna.

Oh ya, walaupun menjelang akhir musim semi, tetep lho suhunya dingin, apalagi pegunungan, jangan lupa bawa jaket!

SONY DSC

Look at the bright sky #nofilter

Begitu sampai disana langsung terkesima melihat pemandangannya. Berpikir “Ah.. yang selama ini cuma liat fotonya di instagram akhirnya melihat dengan mata kepala sendiri“.

Sibuk keliling sana sini tentunya sekalian foto-foto, dan disana juga disediakan tempat tinggi (mirip-mirip jembatan penyebrangan) yang bisa digunakan wisatawan untuk mengambil foto gunung fuji dengan latar shibazakura (seperti foto saya di atas).

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Hai I’m Yellow. The one and only

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Oh ya, jangan takut kelaparan kalau kalian sedang jalan-jalan kesana. Karena banyak banget penjual makanan dan minuman yang siap mengisi perut kalian. Errr tapi saya tetap pilih-pilih juga yang mana yang halal dimakan ;p

Taiyaki - Fish-shaped cake. Biasanya isinya red bean paste. Tetapi yang isinya custard is the best!

Taiyaki – Fish-shaped cake. Biasanya isinya red bean paste. Tetapi yang isinya custard is the best!

thx fotonya cici @penicenora, ngga sempat ambil foto karena saking laparnya ;p

Salutnya sama orang sana, ketika kami makan di tenda yang khusus isinya meja makan semua (karena stan makanan berada di luar tenda), setiap habis makan mereka ngga ragu buat membereskan makanan mereka plus mengelap meja makannya! jadi orang selanjutnya bakal menempati meja yang bersih. That’s why disana ngga perlu ada petugas kebersihan macam di food court mall kita ini.

Ah, ada satu kejadian lucu yang saya alami disana. Setiap kita mencoba selfie berlima (yang mana susyeeh bener) ada aja orang yang bersedia membantu buat fotoin, hihihi. Ngga perlu minta tolong, karena mereka sendiri yang menawarkan bantuan. Dan saya cukup beruntung, ada seorang bapak-bapak yang bagus banget fotoin kami berlima. This photo is my favorite!

SONY DSC

Our HAPPY Face! SAH sudah berfoto dengan background Gunung Fuji

How to get there from Shinjuku Station:

  1. Take the Limited Express Azusa train to Otsuki Station (covered by JR Pass) for 55 minutes *tips: reserve a seat!*
  2. Take Fujikyuko Line Limited Express train to Kawaguchi Station, 1.140 Yen (mahal bangeeet >.<) for 57 minutes
  3. From Kawaguchi Station to Shibazakura venue, you have to take a bus, 30 minutes, 1900 Yen (2 ways include adm fee)

Destination #2

Tokyo Skytree

DSC_0126

Malamnya, setelah gagal menuju Tokyo Tower karena lumayan jauh dari hostel, akhirnya memutuskan untuk melihat Tokyo Skytree (teman saya kekeuh nyebutnya Menara TVRI ;p).

Penjaga hostel bilangnya sih ngga jauh, cuma satu stasiun. Tapi ternyata untuk ke stasiunnya itu jalan kakinya lumayan banget. But it’s Okaaay, soalnya ternyata Tokyo Skytree keren banget kalau malam hari >.< towernya itu memancarkan warna lampu yang berbeda-beda. Bagus banget kalau difoto.

Sayangnyaaaaa, untuk mengambil view Tokyo Skytree secara sempurna seperti foto diatas itu harus dari tempat yang jauh dari tower itu sendiri. Lah saya, keluar dari stasiun langsung benar-benar dihadapkan sama Tokyo Skytree dan nyebelinnya foto yang saya ambil itu ternyata ngga bagus seperti yang saya mau. huhuhu, kesel deh ya (malu mau pajang foto jepretan sendiri >.<)

Ujung-ujungnya saya nge-share foto mba novri yang memang bagus banget jepretan Tokyo Skytree-nya >.< (more photos click her flickr)

How to get there from Asakusa Station (fyi, there’s a difference between Tsukuba Express Asakusa Station and Asakusa Station which is served by Toei Asakusa Line, Tobu Skytree Line and Tokyo Metro Ginza Line) :

  1. Take the Tobu Skytree Local train to Tokyo Skytree Station, 3 minutes, 150 Yen
  2. or take the Toei Subway Asakusa to Oshiage Station, 4 minutes, 180Yen.

Oh ya, selama perjalanan saya dari hostel ke Asakusa Station (yang lumayan banget itu jalan kakinya), sempat melewati Kaminarimon Gate (gerbang menuju Senso-ji temple). Walaupun tidak sempat mampir ke Senso-ji karena sudah terlalu malam, yang penting sah-lah ya ambil foto gerbang yang terkenal dengan lampion besarnya :D

Kaminarimon Gate

Kaminarimon Gate

**Biaya yang dihabiskan di hari keempat :

  1. Transportasi  : 5.180 yen (include adm.fee to Shibazakura, 500 yen)
  2. Makan, cemal-cemil, jajan : +- 1000 yen
  3. Miscellaneous exp : 1.000 yen

Total : 7,180 yen

Btw, mau tau ngga kenapa biaya makan saya saat itu murah banget? ;p

Say thanks to rendang, kentang kering, dan abon yang dibawa dari Jakarta dan nasi serta lauk pauk lain yang kami masak sendiri di dapur hostel buat makan malam. MUHAHAHA.

Satu hal yang paling saya suka di tempat saya menginap ini, ruang makan dan dapurnya yang luas dan bersih! kalian bisa bebas menyimpan bahan makanan yang kalian beli disana, bebas memasak, dan bebas memandangi bule-bule ganteng yang pada pintar masak, huehuehueehe.

Masak apa sih bang?

Bule-bule ganteng sibuk masak ;p

IMG-20140522-WA0026

Mangkok ala Jepang, makanan tetep ala Indonesia

Sekedar saran sih, walaupun kalian ngga niat untuk membawa makanan dari Indonesia, at least, bawa sambal, kecap, atau bubuk cabe kemanapun kalian pergi. Jujur, makanan disana terkadang rasanya nanggung, hambar, enak sih, tetapi kurang nampol, bubuk cabe disana ngga ada pedas-pedasnya sama sekali.

So, sambal 2 belibis sachet, kecap bango, and bon cabe, you’re my savior. thank you. #bukaniklan

 

つづく

to be continued

#OhayouJapan Day 2 & 3 – Magical Osaka

Meninggalkan Kyoto dengan berat hati karena belum kesampaian menginjakan kaki di Kiyomizudera Temple.

Meleset dari perkiraan (dan tentunya itinerary) sebelumnya hingga akhirnya harus memupus harapan mengunjungi temple yang saya taruh di itinerary pertama karena dikalahkan Kinkakuji.

Well, ngga boleh egois juga sih, secara pergi bareng-bareng, jadi ketika partner yang lain lebih memilih Kinkakuji, it’s ok (dan ngga nyesel juga kesana)

Sooo, say HELLO OSAKA!

May 20th, 2014

SONY DSC

Osaka-jo or Osaka Castle dari jauh :D

Perjalanan menuju Osaka dari Kyoto memakan waktu sekitar 15 menit dengan menggunakan Shinkansen, tetapi kereta ini tidak berhenti di Osaka Station, melainkan Shin-Osaka Station (satu stasiun sebelum Osaka St).

Bagi kalian yang mau merasakan naik shinkansen dengan biaya termurah (jika kalian tidak membeli JR Pass), perjalanan Kyoto – Shin-Osaka atau sebaliknya is the best choice.

Sebenarnya cukup banyak tempat yang bisa dieksplor di Osaka. Dari Osaka-jo hingga Dotonbori Area. Tetapi saya hanya menjadwalkan 1 hari di Osaka.

Di Osaka saya menginap di Bonsai Guest House. Alasan utamanya karena dekat dengan Stasiun JR Line (Momodani St). 1 menit saja berjalan kaki (and it’s true) dan Momodani St cukup dekat dengan Stasiun Osakajokoen dan Stasiun Namba (2 stasiun terdekat dari destinasi utama).

Tetapi, semua rencana berubah saat negara api menyerang ketika teman saya mengabarkan bahwa CNBLUE akan konser di Osaka bertepatan dengan kunjungan saya ke sana

AAAAAKKKKKK >.<

Ngga perlu mikir dua kali untuk mengensampingkan itinerary muter-muter Osaka demi Live Performance mereka di Jepang (kalau pernah baca ini pasti tau alasannya ;p)

Berhubung arena konser (Osaka-jo Hall) masih satu komplek dengan Osaka-jo, jadinya kami berlima tetap kesana dan disambut hujan.

Yes. Sesuai perkiraan cuaca, nyata hujannya benar turun.

Dari berlima, saya dan satu orang teman memutuskan berjalan-jalan sekitar Osaka-jo (lumayan bok jalan nanjaknya dari Osaka-jo Hall) sedangkan 3 orang lainnya saya sarankan menuju Dotonbori buat ngeliat suasana malam di Osaka.

The famous Dotonbori and Kani Doraku Crab

Glico Running Man Billboard

gambar diambil dari sini

Berhubung waktu operasional Osaka-jo itu udah tutup sewaktu saya kesana, ujung-ujungnya cuma foto dari jauh karena ngga kuat lagi nanjak, langsung buru-buru balik buat antri masuk venue konser.

CNBLUE here I come~ *cerita soal konser di postingan berikutnya ya ;p*

20140520_174431

20140520_173543

Tetep foto-foto walaupun lagi hujan-hujanan

Tetep foto-foto walaupun lagi hujan-hujanan

Setelah gagal ngider dan ngegaul di Dotonbori, pastinya jangan sampai gagal nyobain makanan khas Osaka.

TAKOYAKI!

Ngga perlu jauh-jauh ke restoran mahal, karena ketika kelar konser dalam keadaan laper berat, takoyaki yang dijual di tenda-tenda depan venue konser tetep berasa enaknya.

Takoyaki yang dijual di tenda mirip-mirip seperti inilah

foto diambil dari sini

Se-tenda-tenda-nya ngejual takoyaki, tetep lho enakan takoyaki Osaka daripada di Jakarta. hahaha. 500 yen saja isi 8 buah. Lebih besar, lebih enak, dan pastinya lebih kenyang. huahauhaaha. Makan 4 aja udah begah :))

Takoyaki yang dijual di tenda-tenda, persis seperti yang saya beli waktu itu. Ngga sempet foto sendiri karena langsung dilahap saking laparnya. HAHA. cr as tagged

Ternyata setelah sampai hostel, baru tau kalau 3 orang teman kami itu ngga ke Dotonbori juga. Selain hujan deras, mereka ngga pegang pocket wifi (takut nyasar), plus tragedi mimisan teman yang mengakibatkan perubahahan haluan nongkrong di McD.

Lengkaplah itu kami ngga ada yang jelajah malamnya Osaka *high five*

**Biaya di hari kedua (1/2 hari di Kyoto + 1/2 hari di Osaka)

  1. Penginapan (Bonsai Guest House) : 3000 Yen/person/night
  2. Transportasi : 690 Yen
  3. Adm fee (Kinkakuji) : 600 Yen
  4. Makan, cemal cemil, jajan : +- 1500 Yen

Total : 5.790 Yen

 

Day 3

May 21st, 2014

Berdasarkan itinerary sih semestinya dari pagi saya langsung cuss menuju Hiroshima buat melihat Miyajima Shrine yang tersohor itu. Rembuk sana-sini ternyata keputusannya tetap bertahan di Osaka sebelum balik lagi ke Tokyo.

Alasannya, yaaa karena mereka pengen ngeliat Osaka-jo yang kemaren ngga sempat dikunjungi.

Yowislah, aku rapopo ngga ke Hiroshima, setidaknya bisa masuk ke Osaka-jo dan mencoba yukata!

ou yeaay.

Osaka-jo

Osaka-jo

Osaka-jo terdiri dari 8 lantai. Pertama kali masuk, kalian akan diarahkan langsung ke lantai atas dan setelah itu bebas bagi kalian untuk menjelajah museumnya.

Fyi, lift ini ngga dirancang untuk turun, jadi cuma bisa naik aja. Selebihnya turun melalui tangga. Tetapi percaya deh, tiap lantai ngga ada yang buat kalian bosan.

Di lantai paling atas itu seperti observation deck buat melihat pemandangan kota Osaka. Memang sih terdengarnya dari lantai 8 itu kurang tinggi, tetapi sebenarnya posisi Osaka-jo sendiri udah berada di dataran tinggi (inget-inget perjuangan menanjak dari depan gerbang sampai masuk museum). Jadi lumayanlah pemandangannya.

SONY DSC

Bangunan beratap lonjong itu Osaka-jo Hall

Bangunan beratap lonjong itu Osaka-jo Hall

SONY DSC

SONY DSC

Lantai-lantai berikutnya tentunya menceritakan sejarah dari Osaka-jo itu sendiri.

Dari pertama kali dibuat oleh Hideyoshi, dihancurkan oleh Takugawa Ieyasu saat pertempuran musim panas osaka, dibangun lagi oleh Tokugawa Hidetada, dihancurkan lagi saat Restorasi Meiji, dan dibangun lagi oleh Seki Hajime di tahun 1928 *huft panjangnya*

Semua isi dari museum ini menarik banget. Semua sejarahnya digambarkan lewat gambar, hologram, termasuk miniatur Osaka-jo jaman pertama Hideyoshi yang buat (sumpah ini keren banget) sampai ke miniatur Osaka-jo yang telah direnovasi.

Cerita perangnya digambarkan lewat miniatur-miniatur yang dipajang di setiap lantai. Jadi dipastiin kalian ngga bakal bosen.

20140521_095104

Salah satu contoh miniatur prajurit yang sedang berperang

Fyi, ngga banyak foto yang saya ambil disini dikarenakan di lantai 3 dan 4 dilarang mengambil foto/video (banyak artefak juga >.<). Di lantai lain juga ngga banyak ambil foto karena terkesima ngeliat barang-barang disana *ngeles*

Oh ya, di lantai 2 ini ada tempat penyewaan yukata dan baju perang. Hou yeaah. Cukup bayar 300 yen kalian bisa bebas f0to-foto ala gadis jepang dan jenderal perang.

SONY DSC

Ehem, udah mirip gadis jepang belum? ;p *iyain aja deh biar saya seneng*

Selesai menjelajah 8 lantai, baru deh keliling sana sini sekitaran komplek Osaka-jo, karena bukan cuma ada bangunan utama dan Osaka-jo Hall tetapi juga ada taman bunga dan bangunan-bangunan lain.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Banyak anak-anak TK, kawaii >.<

Banyak anak-anak TK, kawaii >.<

SONY DSC

Seandainya Jakarta tiap hari seperti ini

How to get there from Osaka Station

JR Pass holder, take JR loop line to Osakajokeon Station, 10 minutes, free! (kalau ga punya JR Pass bayar 160 Yen saja)

Tadinya masih niat mau balik ke Kyoto buat ke Kiyomizudera Temple *tetep* cuma setelah hitung-hitung waktu, memutuskan balik ke Tokyo.

Antara takut kemaleman ambil koper dan terjebak di kereta saat Rush Hour (yakali yaa di kereta heboh sama koper sendiri) , plus waktu itu udah janjian pula dengan teman (temannya teman sih ;p) yang sedang kuliah di Sendai dan kebetulan lagi main ke Tokyo.

Cuuusslah kita menuju Tokyo and say goodbye to Osaka!

So sad that i cannot explore you :(

but thank you for giving me chance to meet CNBLUE :)

Ah, say goodbye to Shinkansen too T_T

SONY DSC

Someday, saya pasti bakal naik kalian lagi, mengunjungi Yokohama, Hiroshima, and Sapporoooo!! I wish.

and Tokyo, I’m coming~~

Alhamdulillah berhasil membawa koper sampai hostel (Khaosan World Asakusa Ryokan and Hostel) tanpa perlu berdesak-desakan di kereta ;p

**Biaya yang dihabiskan di hari ketiga

  1. Penginapan : 16.200 Yen (5 nights x 3240 Yen/person)
  2. Adm. fee Osaka-jo : 600 Yen
  3. Makan, cemal-cemil, jajan : 1300 Yen

Total : 18.100 Yen

 

 

つづく

to be continued

 

#OhayouJapan Day 1 & 2 – Kyoto, I’m In Love

Yak, akhirnya jadi juga cerita petualangan hari pertama (setelah sebulan nongkrong di draft ngga jadi jadi)

May 19th, 2014

Setelah malam sebelumnya menginap di bandara, esok paginya kita langsung cuus ke rumah saudaranya teman kantor di kawasan Higashi-Koganei, Tokyo untuk menitipkan koper.

Titip koper? Yes.

Di hari pertama hingga hari ketiga niatnya kita ke Kyoto, Osaka, dan Hiroshima. Daripada geret-geret koper kan ya pindah-pindah hostel jadi memutuskan untuk menitipkan koper dan bermodal ransel dan tas tenteng (yang ternyata sama aja beratnya).

Berhubung penukaran JR Pass di airport siang, jadi saya hanya membeli SUICA card -kartu sakti yang bisa kita pakai untuk transportasi kereta, bis, vending machine, bahkan beli makanan di 7/11- untuk perjalanan sebelum ke luar Tokyo.

Kita sudah mempersiapkan diri dengan info yang beredar soal stasiun-stasiun di Jepang.

  1. Rush Hour di stasiun juara ramainya
  2. Pintu keluar stasiunnya rata-rata lebih dari 1

Intinya, sebelum Lost in Translation, jangan sampai Lost in Station duluan.

Setelah menitipkan koper dengan selamat, dengan cobaan pertama sukses nyasar ketika mencari rumah gara-gara salah “exit“, kami langsung bergegas menuju ke Tokyo Station untuk menukarkan JR Pass dan berangkat menuju KYOTO! ouu yeaah.

Btw, Tokyo Station itu luaaaaass banget. BANGET.

Belum apa-apa udah Lost in Station.

Tanya sana-sini soal tempat penukaran JR Pass dan ternyata cobaan kedua Lost in Translation.

Mereka senyum ramah ketika saya bilang “sumimasen” (sama aja kayak ngomong excuse me) tapi langsung kagok ketika saya bertanya arah dengan bahasa inggris :|

SONY DSC

Kyoto I’m Coming! haloooo shinkansen :)

Selamat sampai Kyoto Station yang ternyata sama aja luasnya dengan Tokyo Station, lagi-lagi permasalahannya cari pintu keluar. Jelas banget dikasih tau sama pihak hostel harus keluar di Central Exit, tetapi nyari Central Exit aja juga perjuangan banget. Ketika sampai di pintu keluar, disambut Kyoto Tower, dan langsung bingung. Ini menuju hostel lewat jalan mana ya?

Kyoto Tower

Kyoto Tower

Muter sana-sini tanya jalan sama orang lewat (alhamdulillah sujud syukur kalau nemu orang yang ngerti bahasa inggris), ternyata jalannya ga sejauh yang kami kira. Jadi jauh karena terlanjur muter-muter dan membawa tas yang ujung-ujungnya kok berat juga bawaan untuk 3 hari? *ooh aku kangen geret koperku* >.<

Kami menginap di Budget Inn Hostel, hostel yang bertemakan Ryokan. Huhu kapan lagi kan tidur ala nobita? di Kyoto pula  (padahal sih sebenarnya emang mau tidur bareng-bareng tanpa terpisah kamar, itupun kamar untuk berempat kita muat-muatin untuk 5 orang ;p)

Hostelnya dari luar terlihat kecil. Kecil juga sih dalamnya, haha, tetapi fasilitas kamarnya cukup lengkap.

Toilet dan kamar mandi terpisah, TV, kulkas, lemari, sampai tempat cuci piring/gelas pun ada.

Yang paling saya suka, yaaa kamar bernuansa Ryokan itu, tidak jauh dari Kyoto Station plus harganya affordable :D

Budget Inn Hostel

Budget Inn Hostel

Setelah dapat kamar dan ber-basa basi dengan karyawan hostel yang unyu dan manis, ngga perlu butuh waktu lama untuk langsung menuju destinasi pertama.

Here we go~

Destination #1

Arashiyama

SONY DSC

SONY DSC

JR Saga Arashiyama Station

There’s soooo many interesting place to visit in Arashiyama, tapi sayang banget, waktu saya ngga cukup untuk menjelajah itu semua :((

Jadinya tujuan utama kami hari itu adalah… BAMBOO GROOVES!

SONY DSC

Sesuai namanya, bamboo grooves itu seperti hutan bambu. Pemandangannya yaa cuma bambu-bambu. Tetapi dengan walking path yang bagus dan bambu-bambu yang diatur sedemikian rupa sehingga tidak membosankan apalagi terlihat menyeramkan (mungkin seram juga sih ya kalau malam) waktu mengitari area tersebut.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Tadinya sempat niat mampir ke Tenryuji Temple sehabis muter-muter di bamboo grooves, cuma lagi-lagi dikarenakan waktu yang mepet dan ehem, admission fee nya lumayan juga ya, jadinya ya SKIP!

Oh ya, saya menemukan shrine kecil di area bamboo grooves, banyak turis yang memakai yukata dan ada yang menjual berbagai macam jimat berwarna warni dan berbeda doanya juga.

SONY DSC

SONY DSC

Selfie time!

Selfie Time!

Oh ya, sepanjang jalan dari Stasiun Saga Arashiyama menuju bamboo grooves, baru ngerasain yang namanya jalan kaki itu nikmat banget. Jalanan sepi, hening, langit cerah, udara bersih, pemandangan menarik. Uuuuhh the reasons why I love Kyoto >.<

Keliling Kyoto dengan Rickshaw (dengan pose cowok yang sangat sadar kamera :))

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Dango + Ocha = THE BEST! 400 yen saja ;)

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

the cutie dog >.<

SONY DSC

aakk the school kid >.<

How to get there from Kyoto Station

The fastest by train,  JR Sagano Line, 15 minutes (free) soalnya saya pakai JR Pass ;p

 

Destination #2

Gion

Disebut-sebut sebagai Geisha District karena di daerah inilah berkumpul para Geisha eksklusif dan terkenal seantero Jepang.

Dari pertama buat itinerary udah dijadwalin kalau ke Gion ini bagusnya malam. Soalnya pengen banget bertemu sama Geisha yang katanya sih, mereka wara-wiri di jalan itu sore hingga malam hari.

Niat pertama sehabis dari Arashiyama, ke Kinkakuji, lalu berakhir di Gion.

Faktanya, dari Arashiyama kami langsung menuju Gion soalnya udah kesorean :( daripada dipaksakan ke Kinkakuji dan melewatkan suasana Gion malam hari, jadi yaa.. yasudahlah keliling sekitar Gion saja.

Di Gion yang terkenal itu Hanami-Koji Street, Shirakawa Area, Philosopher’s path (bagusnya sih kalau sakura lagi blooming atau musim gugur).

SONY DSC

Hanami-Koji Street

SONY DSC

Banyak turis yang berkeliaran memakai yukata, kawaii >.<

Hanami-Koji Street terkenal akan Machiya (bangunan Jepang tempo dulu) dan Ochaya (tea house), dimana di tempat itulah para Geisha menghibur tamu-tamu yang datang.

Selain Ochaya yang tentunya mahal-mahal, restoran disini juga pastinya mahal, jadinya SKIP makan malam di Gion :))

 

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Salah satu tempat bersahabat di Gion

Baca pengalaman orang di blog sana sini, ternyata menemukan Geisha (orang Kyoto menyebutnya Geiko) jauh lebih susah daripada menemukan Maiko. Beruntungnya, saya malah menemukan Geiko di jalan :D

SONY DSC

Lovely Geisha :)

Puas mengitari Hanami-Koji Street, langsung bergegas mencari jalan menuju Shirakawa Area, namun sayangnyaaa, ah~ tanya sana sini kok malah diarahkan ke area yang mirip-mirip “red district” ya? perasaan aja sih. Karena makin gelap dan takut nyasar plus perut yang sudah mulai minta makan, akhirnya langsung balik menuju hostel :(

How to get there from Kyoto Station:

By bus, #100 or #206, 20 minutes, 240 Yen, one way (kalau beli tiket all day pass 500 yen)

Ah, abiaya yang saya habiskan di hari pertama :

  1. Penginapan (Budget Inn Hostel) : 2996 Yen/ night/person
  2. Transportasi (Suica + tiket bus all day pass) : 3500 Yen
  3. Makan, cemal-cemil, jajan : +- 2000 Yen

Total : 8.496 Yen

 

May 20th, 2014

Destination #3

Fushimi Inari

SONY DSC

Giant Torii Gate

Fushimi Inari is the most important of several thousands of shrines dedicated to Inari, the Shinto god of rice. Foxes are thought to be Inari’s messengers, resulting in many fox statues across the shrine grounds -cr. Japan Guide-

SONY DSC

Romon Gate

SONY DSC

Seperti yang dijelasin di atas, karena peran fox atau srigala yang penting bagi sang dewa, makanya ngga heran kalau banyak banget patung srigala di setiap torii. Srigala juga menjadi ikon ketika banyak orang menggambar wajah srigala di jimat-jimat yang mereka gantungkan.

SONY DSC

SONY DSC

Naruto face everywhere~

SONY DSC

SONY DSC

Setelah melalui banyak torii, nanti kalian akan menemukan percabangan, yang mana yang kalian mau lalui silahkan, toh pada akhirnya akan berujung di tempat yang sama. Berhubung jalanan menanjak dan ingin bergegas ke tempat selanjutnya, akhirnya pada menyerah untuk meneruskan perjalanan dan lanjut ke destinasi berikutnya

SONY DSC

Percabangan torii

How to get there from Kyoto Station:

By train, JR Nara Line, 5 minutes (free) *thx to JR Pass*

Adm fee : FREE!

 

Destination #4

Kinkakuji Temple

SONY DSC

Kinkakuji Temple

Sering disebut juga Golden Temple dikarenakan kuilnya yang semuanya dilapisi oleh emas.

The best view-nya sebenarnya saat menjelang sunset, kuilnya bakal lebih bercahaya (sayangnya saya sampai disana siang hari)

Kinkakuji dari dekat

Kinkakuji dari dekat

Sehabis puas foto-foto di sekitaran kinkakuji, ikutin aja jalan ke atas, jangan balik lagi ke jalan awal, nantinya kalian bakal menemukan banyak tempat pelemparan koin. Mitosnya sih, kalau kalian melempar uang koin dan berhasil masuk ke lubang yang di tengah, doa kalian akan terkabul.

Ngga usah pake koin 100 yen apalagi 500 yen, sayang. Lempar aja pake uang Rp 500, ngga ngerasa rugi :))

SONY DSC

Jalan menapak lagi ke atas, aah~ this is the best, food tester everywhere~~

Oh I love gratisan, semua makanan yang ditawarkan enak enak banget. Sibuk aja coba yang ini, coba yang itu.

Ngga beli juga sih, nyoba aja. hahaha

Ocha Gratisan

Ocha Gratisan

Ramai anak sekolah dengan modus yang sama ;p

Ramai anak sekolah dengan modus yang sama ;p

Tau kan Jepang itu terkenal dengan vending machine-nya?  Vending machine disana udah kayak alfamart indomaret di Indonesia. Jarak 100 m aja bisa nemu vending machine lain. Dan cuma disini saya menemukan Vending Machine yang mengeluarkan waffle ice cream! aah my favorite! sayangnya saya hanya menemukan ini di Kyoto :(

SONY DSC

Chocochip Vanilla is the best!

How to get there from Kyoto Station:

The fastest, take the Karasuma Subway Line to Kitaoji Station, 15 minutes, 260 yen (btw Subway tidak ter-cover JR Pass) and take a bus #101, #102, #204, #205, 10 minutes, 240 yen (beli tiket all day pass 500 yen) to Kinkakuji.

Bisa sih naik bus, tapi lama, sedangkan saya butuh yang cepat :)

Adm fee : 600 yen

Puas foto-foto di Kinkakuji dan icip-icip gratisan, niat kita selanjutnya adalah Kiyomizudera Temple!

oh yeeay.

Sayangnya oh sayangnya, duh sedih banget inget-inget kejadian ini >.< Saya salah naik bus, salah pemberhentian bus pula, sukses nyasar di tengah-tengah jalan.

Bolak balik nanya sana sini ngga ada yang tau bus nomor berapa untuk melanjutkan perjalanan.

Akhirnya yang lain pada nyangkut di mall, ujung-ujungnya udah lewat jam 12 siang, daaaan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Osaka.

huhuhuu ;(((((

Seperti yang saya bilang sebelumnya, Saya jatuh cinta sama Kyoto.

The people, the food, the temple and shrine, the weather, the ambiance, everything.

24 hours is not enough to explore Kyoto,

and I regret that.

But it’s ok, at least I have a reason to come back rite?

Bye Kyoto, and Hello Osaka

 

つづく

to be continued

#OhayouJapan – JR PASS

Seperti janji saya di postingan lalu, saya mau membahas soal JR Pass.

Dibaca dulu ya link berikut ini tentang JR Pass :)

SONY DSC

My JR Pass

Intinya, JR Pass itu kartu transportasi yang hanya bisa dibeli di luar Jepang (baca : turis) yang bisa bebas kalian gunakan untuk shinkansen, kereta, bahkan ferry yang berada di bawah naungan JR. Masa berlakunya ada yang 7 hari, 14 hari, dan 21 hari. Selengkapnya tetap baca link diatas ya ;p

Pertanyaan pertama yang banyak ditanyain calon wisatawan ke Jepang itu,

Perlu ga sih beli JR Pass?

Worth it ngga sih untuk transportasi aja menghabiskan sekitar 3 jutaan?

Jawabannya tergantung.

Tergantung apa?

Yaaa tergantung kebutuhan, itinerary dan budget kalian :D

Ada beberapa hal yang membuat saya memutuskan untuk beli JR Pass sebelum saya berangkat ke Jepang.

  • Waktu

Saya menghabiskan 9 hari (10 hari plus perjalanan) 8 malam disana. Sesuai dengan itinerary yang telah saya susun, 1 hari direncanakan di Kyoto, 1 hari di Osaka, dan sisanya dihabiskan di sekitaran Tokyo.

Nah, saya ngga mau menghabiskan semalaman perjalanan dari Tokyo ke Kyoto dan Osaka – Tokyo dengan bus atau kereta dikarenakan butuh waktu sekitar 8 jam. Bisa diantisipasi dengan menggunakan bus malam (Willer Bus) sekaligus menghemat biaya menginap, tetapi saya lebih memilih naik shinkansen. Lama perjalanannya? 3 jam saja!

  • Biaya

Tau kan dari wish list saya itu saya kepengen banget naik shinkansen? Kapan lagi mencoba satu-satunya kereta paling cepat sedunia. Tetapi yang semua orang tahu, naik shinkansen itu mahal. Untuk satu kali perjalanan Tokyo – Kyoto (non reserved seat) dibutuhkan 13.080 Yen. Dikalikan kurs 114 saja berarti butuh biaya hampir 1,5 juta! wohooo… Sedangkan Osaka – Tokyo dibutuhkan 13.620 Yen. Total 2x perjalanan memakan 26.700 Yen

Pakai JR Pass? 29.110 Yen sudah bebas naik shinkansen (selain shinkansen nozomi) sampai puas sampai bosan! bebas pula untuk reserved seat :)

Oh ya, belum termasuk bebas naik transportasi JR lainnya. Line yang dilalui kereta JR itu banyak banget dan kalau kalian berniat ke Miyajima (kawasan Hiroshima) kalian juga bebas naik kapal Ferry JR.

Perbedaan kurang dari 3000 yen menjadi tidak ada artinya :D

  • No Antri!

Sama seperti stasiun di Jakarta, ketika kalian mau memasuki peron tentunya kalian harus melewati ini,

Kalau kalian tidak menggunakan JR Pass, tetapi SUICA (kartu transportasi yang bisa di- top up dan bisa dipakai untuk naik kereta, bus , bahkan belanja di Lawson/7eleven), kalian harus melewati palang pintu seperti ini. Ketika tidak dalam rush hour sih terlihat biasa, tetapi kalau kalian tiba-tiba berada di stasiun yang seperti ini

atau seperti ini

gambar diambil dari sini dan sini

Percayalah kawan, situasi tersebut benar terjadi adanya.

Tentunya kalian ngga mau kan ngantri diantara kerumunan manusia sebegitu banyak ketika masuk ataupun keluar stasiun? Sebenarnya bisa dihindari dengan tidak pergi berbarengan dengan mereka, tetapi sayang kan waktunya? kalau kalian pakai JR Pass, kalian tidak perlu melewati itu, tetapi seperti ini

Kalian melewati palang/ruangan di sebelah kanan gambar. Selalu ada petugas yang bakal memperhatikan JR Pass kalian.

gambar diambil dari sini

Bonus, penjaganya banyak yang unyu-unyu >.< #salahfokus

Balik lagi soal, “beli ngga ya beli ngga ya” JR Pass, saya serahkan ke kalian. Kalau bagi saya sih, worth it banget. Saya ngga nyesel belinya. Kalau teman saya bilang, “beli JR Pass untuk 2 minggu terus jelajah Sapporo” (aaakk seandainya cuti dan kantong menyetujui saya ke Sapporo T_T)

Semoga tulisan saya membantu kepusingan kalian ya :D

Btw, kalau kalian berniat membeli JR Pass di Jakarta, kalian dapat membelinya disini.

Saran, beli dalam mata uang Yen, kalau beli dengan Rupiah, kurs-nya mereka yang tentukan, pastinya lebih mahal ;p

#OhayouJapan Day-0 – Menginap di Bandara

May 18th, 2014

D-Day is coming!

Setelah subuh langsung berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng dengan langkah gembira. Membayangkan bahwa kurang dari 24 jam saya bakal berada di Destinasi Impian, Jepang. YEAAAY!!!

Pesawat berangkat pukul 08.30, 2 jam perjalanan menuju KL, Malaysia, transit sekitar 3 jam kemudian melanjutkan perjalanan menuju Haneda Int. Airport, Tokyo.

Alhamdulillah-nya, sejak 9 Mei 2014 bandara untuk low cost airlines (Air Asia salah satunya) tidak lagi mendarat di LCCT, KL, tetapi di KLIA 2. Huwooo akhirnya ngga dianggap kargo lagi :)) tahu sendiri kan LCCT bandaranya kurang bersahabat.

KLIA 2

gambar diambil dari sini

Sayangnya, karena masih baru kali ya, tempat makan belum sebanyak waktu di LCCT, masih banyak tertulis opening soon, daan tempat makan yang langsung menarik perhatian (karena satu-satunya) ketika transit adalah MCD.

Lagi-lagi MCD :)))

Lumayanlah nyobain Apple Pie or PAI EPAL :))

Lumayanlah nyobain Apple Pie or PAI EPAL :))

Waktu 3 jam untuk transit ternyata sebentar banget. Makan, sholat, duduk-duduk sebentar tiba-tiba langsung dipanggil untuk boarding. Berangkat pukul 14.30 waktu Malaysia, penerbangan memakan waktu sekitar 7 jam kurang.

Malesnya, karena saya tidak reserve seat untuk penerbangan, saya duduk terpencar dengan teman-teman saya lain. Alhamdulillah-nya, orang Jepang yang duduk di sebelah teman-teman saya mau aja gitu ketika diajak tukeran bangku sama saya. MUHAHAHA.

Takut mati gaya sebenarnya 7 jam duduk doang, apalagi sempat kelupaan bawa buku untuk bahan bacaan >.<

Ternyataaa, nontonin 2 video konser CNBLUE yang masing-masing berdurasi 2 jam di Ipod udah ngebunuh waktu. Belum lagi bolak-balik tidur-kebangun-tidur-kebangun lagi, plus chit-chat sepanjang perjalanan. 7 jam jadi tidak berasa.

and finally, sekitar pukul 22.30 waktu Tokyo,  sampai juga di Haneda Int. Airport, Tokyo.

Maaaakk, anakmu akhirnya sampai juga maaak, anakmu nginjek tanah Jepang juga! aaakkk >.<

Lalu petualangan #1 pun dimulai.

Saya memang sengaja tidak memesan hostel di hari kedatangan saya waktu itu karena memang berniat menginap di bandara.

Serius lo pres nginep di bandara?

Iyee serius.

Selain takut ketinggalan kereta (karena jam operasional kereta hanya sampai pukul 23.00), alasan lainnya ogah rugi.

Say NO! sama naik taksi buat sampai ke hostel dan sayang pula kan hostel ditidurin cuma beberapa jam saja? ;p

Setelah urusan imigrasi, langsung lah tuh ya rebutan kursi sama penumpang lain buat jadi alas tidur.

Ngga usah malu karena kita ngga bakal sendirian yang menginap di sana dan jangan takut soal barang bawaan karena di sini keamanan terjaga.

Petugas keamanan bolak-balik patroli dan ternyata petugas kebersihan-pun menjalankan tugasnya di malam hari pula. Salut!

Yuk mari berebutan lahan tidur

gambar diambil dari sini

and the best thing in this airport is.. *drum-roll* Prayer Room! *sujud syukur*

Ada mushola ciiing, walaupun ga bisa tidur disana ya, tapi saya senang banget ada mushola disini, sholat terjamin. Lucunya, berhubung mushola ini dikunci, jadi sebelum masuk harus pencet bel dulu lalu bilang kita mau pakai musholanya, lalu pintu pun terbuka dengan sendirinya :D

Oh iya, tahu ga tindakan norak #2 yang saya lakukan setelah sampai di bandara Haneda? (setelah tindakan #1 mau foto-foto airport tetapi dilarang), TOILET!

Seperti banyak orang bilang, toilet Jepang itu wow banget. Tombolnya ngga cuma flush doang, tapi banyak banget dan benar-benar mengakomodir kebutuhan kita selama di dalam toilet.

IMG_20140526_181320

IMG_20140526_181405

Ah, berhubung banyak banget yang tanya ke saya berapa biaya yang saya habiskan untuk perjalanan kesana, saya jabarkan sesuai ingatan saya ya dari hari keberangkatan (di luar biaya belanja ya;p)

  1. Tiket promo PP Air Asia JKT – HND via KL Rp 3.400.000
  2. Bagasi (waktu pergi saya gabung bagasi dengan teman-teman lain 80 Kg untuk 5 orang dan waktu pulang jatah 20 Kg untuk diri sendiri) +- Rp 800.000
  3. JR Pass, 29.110 Yen (kurs saya waktu itu 113,8) jadi sekitar Rp 3.315.000 (kalau dibulatkan)
  4. Biaya makan saat transit atau kalau mau beli sesuatu di pesawat +- Rp 150.000 (harus ditukar dulu dengan Ringgit Malaysia)

Saran saya sih ya, sekedar saran.

  1. Beli tiket promo ke suatu tempat itu ngga usah kelamaan mikir, karena kalau banyak pertimbangan ujung-ujungnya ngga jadi berangkat. Pesan tiket, ngga perlu reserve seat dan urusan bagasi itu belakangan. Toh dikasih waktu panjang buat menabung kan?
  2. Waktu berangkat biasanya bawaan tidak terlalu berat, join bagasi sama teman perjalanan. Lebih hemat. Baru pulangnya sendiri-sendiri karena pasti bawaan bertambah.
  3. Selain menukar Yen Jepang, tukarkan juga Ringgit Malaysia. Ngga mau kan waktu transit kelaparan karena ngga bisa beli makan? atau di pesawat kehausan karena ngga bisa beli minum?
  4. Berhubung naik Low Cost Airlines, order makanan secara online sebelumnya. 7 Jam perjalanan itu bakal panjang kalau perut kamu ngga dikasih asupan.
  5. Banyak yang tanya nih, beli JR Pass itu perlu ngga sih? worth it ngga? Kalau saya sih perlu. Selain ingin ngerasain naik shinkansen, perhitungan waktu juga hemat biaya menjadi salah satu alasan. Mungkin harus dipisah sendiri kali ya ceritanya biar lebih puas :D
  6. Mau cara yang lebih hemat lagi? Berangkat dan pulang dari bandara yang berbeda. Contohnya, dari Jakarta menuju Haneda, Tokyo dan ketika pulang dari KIX, Osaka menuju Jakarta. Sayangnya, karena terlalu bersemangat beli tiket promo, saya bablas saja pesan tiket JKT-HND-JKT.

Huwaaa panjang juga ya ceritanya, padahal belum mulai bertualang ;p

Cerita lebih serunya soal pengalaman disana di postingan berikutnya ya :D

Ciao!