Hai Hai! Sudah bulan Februari sekarang dan tanpa sadar ternyata saya sudah sebulan lebih tidak update. Woow… *tumben* Jadi maaf-maaf ya yang kemarin sudah menyediakan waktunya buat mampir, baca, dan isi comment belum sempat saya datangin blognya >.<
Rasanya bingung mau bercerita apa, saya lagi tidak sesibuk seperti bulan-bulan lalu. Tetapi justru karena lagi tidak sibuk saya jadi kehabisan cerita dan akhirnya memutuskan untuk membuat blog (lagi) untuk bercerita tidak penting. Inipun saya berterima kasih sama Adhi Muliaharta yang tiba-tiba memberi wall seperti ini di facebook :
pres..kangen baca blog mu…update gih!!!!! masak aku kesana disuguhi tulisan lama.. tolong buatin posting yang menarik pres…wkwkwkwk..
Wah.. jadi senang, ternyata ada ya yang kangen sama tulisan saya? hahaha..
Oh ya, semalam saya dapat mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen yang membahas materi tentang Budgeting (Anggaran). Dalam membuat budget, berarti kita juga menentukan target. Misalnya seperti sales budget (anggaran penjulan), berarti kita menargetkan berapa sih penjualan yang ingin dicapai untuk periode mendatang. Nah, dosen saya bilang, kebanyakan perusahaan atau minimalnya individu, lebih sering menentukan target yang bisa dicapai. Contohnya sales budget tadi, kalau penjualan yang ditargetkan tercapai, tentu manajemen akan dinilai bagus performance-nya.
Loh? koq saya malah merasa kebalikan ya? entah saya yang terlalu percaya diri atau ga tau diri, lebih sering saya menentukan target di atas kemampuan. Kalau tidak tercapai rasanya sebel minta ampun. Kesal sama diri sendiri. Sampai akhirnya orang-orang di dekat saya bilang : “Ah.. lo aja yang nentuin target ketinggian.” Salah ga sih seperti itu? rasanya kalau menentukan target yang setara dengan kemampuan nanti kita ga maju-maju dong? kalau target tinggi dengan kemampuan yang awalnya biasa saja, ketika kita terpacu untuk mencapai target tersebut, biasanya suka muncul bukan kekuatan mendadak? *people best perform under pressure
Nah, kalau target saya kesampaian, saya malah bilang : “Tuh kan, mestinya target saya lebih tinggi lagi, segini si saya masih mampu.” *tetapi bukan berarti tidak bersyukur ya*. Sama seperti dalam hukum tawar menawar. Contoh, baju yang ditawar penjual seharga Rp 100.000, jika kita tawar Rp 75.000 trus langsung dikasih sama penjual tanpa perdebatan, pasti berpikirnya : “yaaaaa… kalau tahu Rp 75.000 dikasih, gw mestinya nawar Rp 50.000 dulu.”
Pikiran saya sih seperti itu. Kalau kamu?





Recent Comments